Memiliki anak, memang adalah anugerah dari Allah yang luar biasa….
Terkadang -luar biasa- berat, namun lebih banyak lagi -luar biasa- menyenangkan #sumringah
Alhamdulillah aku dan Azzam sangat dekat, breastfeeding time adalah momen favorit ku untuk menguatkan bonding antara kami
Aku bisa melakukannya sembari berbincang dengannya, mengusap punggung kecilnya, atau mengelus rambut jabriknya
, dan dia biasa hanya menyahut “heu.. heu… heu…. ” dengan bola mata yang berputar dan berbicara.
Azzam memang masih sangat belia, 1 tahun 2 bulan… kosakata yang mampu diucapkannya belum semua utuh. Namun satu hal yang mebuatku terkadang cemburu buta, dia mampu memanggil ayahnya dengan fasih… “Yah… Ayah..” sedangkan memanggilku hanya dengan sepotong kata “nda”.
Meski termasuk anak yang amat menggemaskan dan lucu, dengan berbagai polah tingkahnya yg tak terduga dan cenderung ga bisa diem. Adakalanya sebagai seorang bunda yg amatir-haha, aku kewalahan menghadapi Azzam…. Hiyaa, pokonya mah kalo kata orang betawi -adatnya keras- kalau katanya ya katanya, Melihat rambutnya yang jigrak-jabrik-berdiri banyak ibu-ibu disekitar rumah yang berkomentar “Wah.. jangan deket2 balon tuh rambutnya nanti bisa pecah” ada-ada aja….
Berbicara, berkomunikasi dengan Azzam, memang tantangan tersendiri buatku, terlebih ketika ia cenderung tidak menurut dan membawa caranya sendiri, duile udah dewasa ya :p. Misalkan saat sesi makan sayur sop, jika ia hanya ingin wortel.. ia akan terus menunjuk wortel dan menolak sayuran yg lain. Terlebih bila melihat Ayahnya makan kerupuk, ga akan menyerah hingga berhasil mencicipi kerupuk tersebut, mulai dari mengekori Ayahnya, menunjuk-nunjuk kaleng kerupuk di dapur sembari setengah berteriak “pu… pu…”, hingga nangis guling-guling di lantai. Intinya ga akan menyerah hingga Ayah dan bunda yang menyerah, hehe….
Kegiatan manjat memanjat bangku dan melempar bantal bangku kelantai, meng- acak2 pakaian yang sudah dilipat rapih, hingga aktivitas menenteng-nenteng sepatu kemana-mana & menyemirrnya meniru ayahnya ia lakoni…. terkadang memang lucu sekali, tetapi kalau dilakukan berulang-ulang dan membuat berantakan lelah juga ya. Saya jadi berfikir bagaimana ya caranya agar Azzam setidaknya paham apa yang bunda harapkan, haha… maksudnya mengerti apa yang boleh dan tidak boleh, setidaknya ia mendengar dan berkenan menurut…
Memang saya tidak berharap banyak dari anak sekecil Azzam untuk cepat-cepat paham, memang mungkin naturenya seperti itu… Tapi saya tidak mau berhenti menyerah untuk bisa saliang mengerti dan memahami dengan Azzam, tentu saja berbicara yang efektif dari hati ke hati tanpa harus frustasi dan mengerahkan emosi berlebih yang tidak perlu
Tips dari Kompas.com ini mungkin cukup membantu, silahkan di simak….
KOMPAS.com – Berbicara dengan anak bukan perkara mudah. Bahkan bagi orangtua anak sekalipun ada kalanya merasa kesulitan berbicara dengan anak. Bagi Anda yang sering menyaksikan serial Nanny 911 pasti pernah menyaksikan kesulitan orangtua untuk mengajak anaknya berbicara. Bagaimana cara Nanny Deb dan Nanny Stella berbicara dengan anak? Begini tips yang mereka bagi dalam buku Nanny 911:
1. Apabila Anda ingin memastikan anak mengikuti kemauan Anda (atau saat ingin mengajarkan disiplin), turunkan tubuh Anda setinggi anak. Duduk atau berlutut, pilih yang nyaman untuk Anda.
2. Tatap matanya. Ini adalah bagian penting. Jika perlu, dengan lembut palingkan wajahnya agar ia menatap langsung kepada Anda.
3. Jika si anak sangat marah, usap punggung atau perutnya. Ini adalah bentuk usapan pengakuan. Tak perlu menarik atau memeluknya dengan paksa agar berdekatan dengannya, kecuali si anak benar-benar histeris dan perlu ditenangkan. Jika anak histeris, biarkan ia tenang dulu sebelum diajak bicara. Suruh ia mengatur napasnya.
4. Ubah nada suara agar menjadi tegas tetapi lembut. Suara Anda secara alami naik turun ketika sedang bahagia atau sedang bersenang-senang.
5. Beri kata-kata kepada anak untuk membantu mengalirnya percakapan. Bantu anak yang masih sangat kecil dengan suruhan mengikuti kata-kata Anda dan dorong ia mencoba. Untuk anak-anak yang sudah besar, Anda bisa membuka percakapan dengan ide, seperti, “Kamu sepertinya sedang kesal.”
6. Ulangi kembali apa yang dikatakan anak. Ini menunjukkan bahwa Anda benar-benar mendengarkan. Ini juga memberi Anda waktu untuk mengatur ulang pikiran Anda.
7. Jangan menyela si anak saat sedang bercerita. Biarkan ia mengutarakan apa yang ada di benaknya. Katakan padanya bahwa Anda mengerti. Ketika giliran Anda tiba, mereka akan berhenti berbicara dan mendengarkan Anda. Kalau mereka menyela Anda, katakan, “Mama mengerti, tetapi biarkan Mama selesai bicara dulu, setelah itu kami bisa bicara.”
8. Biarpun hati Anda penuh gejolak, upayakan selalu tetap tenang