“Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)
Tepat hari ini, tgl 1 maret 2011 adalah genap dua tahun usia pernikahan kami… Alhamdulillah wa syukurillah, usia pernikahan yang relative masih seumur jagung mungkin, namun tidak sedikit yang telah kami lalui berdua, semuanya double entry(mengacu pada istilah akuntansi yang belakangan aku tekuri di kampus) ada suka ada duka, ada marah ada kelapangan, ada kecewa ada kemaafan , bahkan ada senyum dan ada manyun.. ada manja dan kejenuhan…
Diawal pernikahan, sebagai seorang istri memang saya akui bahasa cinta yang kerap saya ungkapkan kepada suami adalah manja, manyun dan merajuk…. jelas ini pertanda minta perhatian, tapi mungkin disisi suami bisa amat menjengkelkan jika intensitasnya terlalu sering, hehehe…
Saat hamil azzam, tentu toleransi suami jauh lebih besar dengan sikap saya yang agak manja & kekanak-kanakan… Namun, ketika Azzam sudah nongol ke bumi, beuhhh.. mulai lah suami mendidikku dengan caranya yang terkadang membuatku merasa diacuhkan dan tak diperhatikan, hadooh kamu ko gitu… asli deh bikin keki, mau manyun seharian juga, rasanya akan sia-sia. Padahal rasa-rasanya menjelang pernikahan (setelah khitbah) suami yang mengejar-ngejar saya, dengan sms dan telpon berkali-kali (yang saya rasa ga penting-red), tak akan menyerah sampai berhasil mendapatkan jawaban dari saya. Sekarang ?? sepertinya terkena hukum balas, haha
Sebelum menikah saya memang jauh dari manja, bahkan bisa dikatakan galak dan jutek terhadap lawan jenis dan lebih mandiri , semuanya dikerjakan sendiri, mau kemana-mana bawa motor sendiri bahkan mengantar anggota keluarga kemana saja, namun sesekali tetap saja merepotkan ayah tercinta. Entah mengapa setelah menikah, saya seperti euphoria.. mungkin karena sebelumnya tidak pernah pacaran alias tak ada kekasih yang bisa direpotkan, haha.. jadilah seperti itu.
Di momen dua tahun ini, tak ada euphoria yang berlebihan… tak ada perayaan khusus, bahkan melankolis saya pun tak tiba-tiba muncul dan mendominasi seperti biasanya, Alhamdulillah terasa amat biasa… Suami juga bukan orang yang romantis, menurutnya untuk mengekspresikan cinta dengan tindakan itu jauh lebih nyata dari sekedar perkataan gombal .. padahal setelah menikah saya suka sekali digombalin
Saya masih belajar, saya yakin suami pun masih belajar… untuk saling memahami dan mengerti, saling mengisi dan memenuhi apa yang menjadi kebutuhan pasangan-bukan sekedar keinginan. Proses ta’aruf ini adalah proses seumur hidup yang akan terus berkelanjutan hingga maut menjemput, dimana masing-masing dari kita baru bisa menyimpulkan… bagaimana cerminan diri kita yang ada dalam diri pasangan kita.
Apakah pada akhirnya ia menjadi insan yang lebih baik, berkembang dan semakin sholih/a… Apakah dengan hadirnya saya di kehidupannya, dia menjadi orang yang lebih bergairah, bersemangat untuk berjuang? Bagi saya, suami adalah cermin.. dimana setiap hari saya berkaca, kebaikan apa yang telah saya lakukan untuk memperindahnya. Bagi saya suami adalah pakaian, tempat saya berlindung dari rasa kekurangan dan mencoba menutupinya dengan amal-amal sholih. Bagi saya suami adalah telaga, yang menghilangkan rasa dahaga akan kasih sayang dan penjagaan. Bagi saya suami adalah mentari, yang memberi kehangatan dan semangat optimisme untuk terus melakukan perbaikan…Bagi saya suami adalah sang pemimpin, dimana kesejahteraan dan keadilan akan saya peroleh darinya, hingga hanya kenyamanan dan ketenangan yang bersemayam dalam dada ketika saya menjadi makmumnya.
Sayangku, tak ada yang lebih istimewa dan berharga hari ini, selain doa dan ridha darimu… Bahwa aku adalah istrimu yang akan kau jaga, pelihara dan pimpin di JalanNya, bukan sekedar berwujudnya harap duniawi semata atas sejahtera fana ini… Tak lebih, aku hanya ingin Sakinah, Mawaddah.. Warohmah menjadi milik kita selamanya yang dianugerahkan Arrahman dalam mahligai pernikahan kita, saling berpandangan & bergenggaman tangan dengan penuh cinta hingga berguguran dosa kita karena RidhaNya… Amiin Allahumma Amiin…
-Depok, 1 Maret 2011-

Semoga langgeng dan tetap mendapat barokah dari Allah Swt. Insya Allah Sakinah, Mawaddah.. Warohmah
Allahumma Amiin, terimakasih atas doanya ya