Feeds:
Posts
Comments

Random

Seminggu ini, pasca UAS selesai….. tinggal-lah aku merasakan nelangsa, H2C… harap-harap cemas. Pasalnya jika tak ada aral melintang, insya Allah… dengan izin, kuasa dan kebaikan Allah…. ini akan menjadi semester terakhirku meraih gelar S. Kom setelah 3 tahun terakhir bergelut dengan bidang baru di Ilmu Komputer, setelah sebelumnya kuliah D3 di jurusan Teknik Sipil.

Mungkin sudah sering-baca jurnal ini, betapa beratnya  (ngeluh lagi, hehe), menjalankan KKN, ditambah ada balita 1, 5 tahun super heboh, plus mengandung 6 bulan kini, Hey…. but still iam Alive!! ^__^ Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah…

16 sks, dalam 4 bulan terakhir sudah terlewati… 4 dari 5 Mata  Kuliah insya Allah berjalan dengan mulus, but the biggest constraint ever… sungguh menakutkan, Struktur Data Algoritma… Allah Ya Rabb, rasa2nya hamba tak mampu berkata-kata lagi mengenai MK ini, hanya berharap bisa lulus…. lulus… lulus… lulus… lulus… meski dengan nilai pas2an, insya Allah hanya lulus yg hamba harapkan… mengingat dan mengingat banyak hal..

Namun, ampun Ya Rabb, jika seakan-akan aku berharap padaMu dengan hati yg memaksa, sok tau… jauh dr sabar dan lapang dada, hamba hanya berharap bisa lepas dr “kewajiban” kuliah ini… sementara ingin fokus pd keluarga dan anak(anak) hamba kelak, yg belakangan sedikit banyak terbengkalai dengan kesibukan dan prioritas hamba di bangku kuliah, malam pula…

Rabbana Dzolamna anfusana wa in lam taghfirlana wa tarhamna lana kunnana minal khosirin…

Kemarin suamiku yang tengah training diluar kota, sempat sms mencoba meredam kegundahanku, mengatakan Allah sesuai prasangka hamba-hambaNya, sungguh gerimis hati ini mengejanya, insya Allah aku selalu memupuk prasangka yg baik, bagaimanapun… apapun Takdir Allah yang akan ditetapkan untukku,

Namun mengingat effort dan ikhtiarku di MK ini, sungguh.. rasa2nya jauh dari memuaskan, tidak meyakinkan, aku benar-benar mengandalkan kebaikan dan kemurahan dari Tuhanku.. bukan usaha yg telah aku perjuangkan, tidak maksimal!

Kemudian ombudi, bapak beranak 3, teman seperjuangan di bangku kuliah, yg lolos dr matrikulasi MK ini pun mencoba menyemangati pesimisku dengan wejangannya “kalau Allah punya kehendak, nilai terjelek jadi terbaik bukanlah hal yang sulit … yang penting sudah berusaha sekuatnya … soal hasil, tinggal Allah yang memberikan”

Setiap kali aku memikirkan tentang nasib MK ini, kontan dede berusia 6 bulan diperutku mulai kontraksi, mulas tak tertahankan… menendang dan menyundul dengan aktivnya. Mungkin ia protes, “Oh Bunda mengapa engkau begitu risau, sehingga mengusik kenyamananku disini”. Segera kuusap2 perutku yang membuncit besar seperti usia 8 bulan, kata rekan kerja dikantor…. “iya sayang tenang yah, maafin bunda ya nak, doakan bunda yg terbaik ya..” bisikku lembut padanya….

Azzam pun demikian, semakin manja dan menagih perhatian… meski menguras tenaga, tp aku semakin bersyukur pd Allah, azzam semakin sehat & pintar, geraknya tak ada habisnya, seperti kelinci energizer yang baterenya ga pernah drop, yang ada aku bundanya yg tepar….
Ingin rasanya aku mendampinginya disepanjang waktukku, menemaninya nonton barney, kelon2an, memasak makanan yg dia suka & meng-eksplor menu2 baru agar ia smakin lahap dan tidak gampang bosan.

Ingin sementara ini kutinggalkan bangku kuliah dan kerjaan kantor… menjadi FTM saja….Meski keinginan menuntut ilmu kuyakin tak akan pernah padam dlm diri ini. Namun izinkanlah “sejenak” diri ini membahagiakan keluargaku, anak(anak)ku dengan eksistensi dan kontribusi yang berarti & optimal bagi mereka….

Ya Allah, Laa Haula walaa quwwata illa billah… baiknya kuserahkan semuanya kepadaMu, dan memang seharusnya begitu…. meski bayangan mengulang kuliah, yg menghabiskan tenaga, waktu, pikiran, biaya… dan lagi2 mengorbankkan waktu bersama anak(anak)ku sungguh menakutkan dan kerap menghantuiku… Ya Allah, sanggupkah diri ini??

Laa haula walaa quwwata illa Billahi,

Belum tentu pula usiaku sampai hari esok, sudah ku-pusingkan yang hal-hal belum tentu kulalui

Bagaimana pekerjaanku, dari mana biaya kuliah, sementara kami tengah menabung untuk biaya persalinan yg ada kemungkinan cesar lagi, meski ku selalu berdoa untuk bisa normal. Bagaimana dengan mimpi2 dan target hidupku-kami selanjutnya… target setelah lulus kuliah : cicilan rumah

Astaghfirullah al adziim… Astaghfirullah al-adziim, semuanya berlabel dunia yg mengkhawatirkanku

Inalillahi wa inna ilaihi raji’un…

Ya Allah, Ya  Rahman Ya Rahiim, segalanya adalah mudah bagimu jika Engkau berkehendak…..  adalah mudah untukMu menetapkan Kun Fayakun,

sementara bagiku hanyalah,

Laa Haula walaa quwwata illabillahil ‘aliyiil Adziim…

Laa Haula walaa quwwata illabillahil ‘aliyiil Adziim…

Laa Haula walaa quwwata illabillahil ‘aliyiil Adziim…

Kemarin pagi sebelum menuju kantor, saat mampir ke rumah nenek mengantar azzam yg sudah di “booking” abah untuk dititipkan.

sempet kesemsem sm lagu band – Armada, saat ga sengaja memencet channel acara musik pagi “Dering’s” di Trans.. kira2, seperti ini bunyi liriknya :

“Kau terindah… dan selalu terindah

aku bisa apa tuk memilikimu

kau terindah… dan selalu terindah

harus bagaimana ku mengungkapkannya

kau pemilik hatiku…”

Lirik ini terus diulang-ulang sepanjang sang vokalis menyanyikan lagunya. Video klip menceritakan kekaguman sang vokalis terhadap seorang perempuan, namun sepertinya belum kesampaian, sehingga ia hanya bersenandung lirih. Rasa-rasanya memang hampir tidak ada yg istimewa dengan lagu ini jika dibandingkan dengan lagu cinta lainnya, hanya saja suasana hati saya pagi itu cukup melankolis kali yaaaa, tiba2 keingetan sm suami tercinta😀

Padahal jika merujuk pada penggalan kalimat “kau pemilik hatiku”, kita harus ekstra hati2 dalam menyenandungkannya, meniatkannya… kira2 akan dimaksudkan kepada siapa kata2 itu…  jangan sampai ada yg lebih berhak menerima pernyataan itu namun kita salah alamat…

Ya, pemilik hati… tidak lain tidak bukan ada-lah  ALLLAH SWT, Tuhan kita semesta alam… Dia-lah penggenggam segala hati, pemilik hati setiap hamba yang memilki hati, meneguhkannya.. membolak-balikannya, menggoyahkannya… Dia mampu melakukan segalanya kepada hati kita, maka jika tidak heran bila ada doa peneguh hati yg cukup terkenal :

Ya Muqallibal quluub tsabbit quluubana ‘ala diinik

Ya Musharrifal quluub sharrif quluubana ‘ala tho’atik”

Tak ada yang menjamin, keteguhan hati kita akan selamanya terjaga, terpatri pada iman yg kuat kepadaNya, bahkan sang nabi sekalipun tetap berdoa demikian, sebab memang Dia-lah Allah pemilik hati kita, yang Maha Berkendak dan Maha berkuasa, tiada keraguan akan itu, tidak sedikit pun…

Namun, jika dihubungkan pada konteks kemanusiaan, khususnya saya sebagai seorang perempuan, seorang istri….. makhluk yang identik dengan kesetiaan.. mendengar lagu ini, entah mengapa hal yg pertama saya ingat adalah suami saya.

Tiba-tiba hati tergelitik untuk mendowload lagu ini, hehe… langsung saya putar- repeat one dikantor, sembari menemani tugas translate laporan  sebanyak 135 hal ke English version, rasa-rasanya cukup menghibur. Bener kan…. tiba2  langsung keingetan suami saya (alhamdulillah bukan suami orang :P), ini masih dlm konteks kemanusiaan ya… bukan bermaksud berdalih.

Yang saya rasakan saat itu suami-lah makhluk terindah dan selalu terindah yg ada dihati saya (selain  Azzam kami mr. bau acemmm sedap!)  , dimana hati saya tak akan pernah (semoga-bi idznillah) berpaling pada makhluk-lelaki manapun, menjaga kesetiaan saya hingga Allah saja yang memisahkan kami berdua melaui maut yg menjemput… Allahumma amiin

Iseng saya kirim sms ke suami, ingin mengetahui bagaimana reaksinya : “kau terindah.. dan selalu terindah, harus bagaimana kumengungkapkannya, kau pemilik hatiku # esp to my dear lovely husband”

satu jam kemudian…. dari suami saya : “Yg terindah hanyalah Sang pemilik keindahan, jgn sampai Dia marah & murka, nau’dzubillah tsumma na’udzubillah”

tegas dan singkat, tak ada balasan yg lebih romantis seperti yang sebenarnya saya harapkan, tapi tak sedikitpun hati ini terkejut dengan balasannya, hanya tersenyum dan berucap syukur….

sembari menghabiskan jus alpukat gratisan dr sahabat saya yg tengah berbahagia, mengabarkan berita pernikahannya melalui undangan makan siang🙂 , saya balas sms tersebut kalem: “Iya ayah sayang, makasi ya udah ingetin bunda…insya Allah mengenai itu bunda sudah paham🙂, ini hanya ekspresi sebuah kesetiaan bunda pada ayah, bahwa tak ada orang lain dihati”

sekejap kemudian : “okelah sayang kalo begitu….. Muahhhh”

Begitulah, sudah semestinya pasangan suami istri saling mengingatkan, alhamdulillah wa syukurillah….. jangan sampai ada yg lebih berhak menerima pernyataan cinta kita, menjadi cemburu… sebagaimana postingan sy sebelumnya disini

Alhamdulillah, pun ketika saya iseng mengirimkan sms tersebut ke suami,  saya sadar betul dengan niat saya  dan mengetahui konsekuensinya… sekaligus ingin mengetahui bagaimana ia mem-persepsikan sms romantis dari istrinya tersebut

ternyata logika nya masih lebih dominan dari pada perasaannya😛

-jealousy-

Belakangan terasa sekali, aku jauh dari bijaksana… bersabar dan berprasangka baik…

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.. ini adalah musibah

Mungkin, karena jauhnya orang-orang shaleh yang berada disekitarku kini, atau memang kadar keimananku sedang anjlok drastis.  Siapa lagi yang akan aku salahkan, kesibukan kah, banyaknya amanah dikantor, dikampus dan dalam rumah tanggaku…? keletihan luar biasa sebagai ibu hamil sekaligus mengurus azzam in the same time.. siapa kini yang menjadi kambing hitamnya, saat tumpukan amanah datang  tanpa diminta.. Aku disorientasi, aku kewalahan, aku tidak siap!

Bekal ilmu tidak memadai, kualitas ibadah keteteran, amal sholih pun jauh dari implementasi.. lengkaplah sudah. Bukanlah hati ini bangga dengan kondisi diri yg seperti ini. Miris saja tidak cukup… aku membutuhkan solusi.

“Katakanlah jikalau bapak-bapak , anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah [9] : 24)

.…lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan berjihad di jalan_Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya….

Astagfirullah al adziim, tsumma astagfirullah al adziim, mungkin inilah sebabnya….

Ampun ya Allah…… dzolimnya diri ini terhadap diri sendiri dan orang lain, dan dzolim pula terhadap hak-Mu untuk lebih dicintai diatas siapapun dan apapun.

Engkau telah memperingatkan, andai saja jiwa raga ini lebih sensitiv mentafakuri ayat-ayatMu. Ya Rabb beri kekuatan untuk mengatasi gumpalan rasa yang masih juga bercokol didalam hati, menggerogoti jenak-jenakku dengan prasangka yg menjerumuskan.

Bismillahi rahmanirrahiim.. kembali ku padaMu, menyerahkan apa yang menjadi hakMu atas jiwa alpa ini….

Ada baiknya…

Ada baiknya daku ungkapkan segala resah…..

kumuarakan segala lelah dan penat, di segenap kesibukan yang mendera

Izinkan sekali ini saja aku berkeluh

Sungguh letih…. menjadi perempuan berperan ganda

Punggungku ringkih, perutku membuncit…

Wajah kusam tak bercahaya

sedang fikiran ini kuperas sedemikian rupa

 

 

Dan hati… kupaksa berdamai dengan keadaan

Ingin kupeluk-peluk dikau saja duhai permata jiwa,

Bercengkrama bersama sebagaimana fitrahku,

Tatapanmu adalah samudera nan menenggelamkan resah

Senyumanmu adalah penawar luka jua duka

Dekapan mungilmu, mentari hangatkan jiwa

 

 

Namun letih pun tak kunjung usai

Siapalah aku ini, kulafazkan….

Laa yukalifullahu nafsan illa wus’aha

Laa yukalifullahu nafsan illa wus’aha

Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha

 

 

Apa daya, hanyalah Dia tempat berpasrah

Lemahku, dukaku… Dia Yang Maha Kuasa

Lapangku, gembiraku… Dia Yang Maha Segala

Ada baiknya, daku titipkan pada Dia..

Jiwa raga tak berdaya upaya,

“Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)

Foto romantis gagal ^^

Tepat hari ini, tgl 1 maret 2011 adalah genap dua tahun usia pernikahan kami… Alhamdulillah wa syukurillah, usia pernikahan yang relative masih seumur jagung mungkin, namun tidak  sedikit yang telah kami lalui berdua, semuanya double entry(mengacu pada istilah akuntansi yang belakangan aku tekuri di kampus) ada suka ada duka, ada marah ada kelapangan, ada kecewa ada kemaafan , bahkan ada senyum dan ada manyun.. ada manja dan kejenuhan…

Diawal pernikahan, sebagai seorang istri memang saya akui bahasa cinta yang kerap saya ungkapkan kepada suami adalah manja, manyun dan merajuk…. jelas ini pertanda minta perhatian, tapi mungkin disisi suami bisa amat menjengkelkan jika intensitasnya terlalu sering, hehehe…

Saat hamil azzam, tentu toleransi suami jauh lebih besar dengan sikap saya yang agak manja & kekanak-kanakan… Namun, ketika Azzam sudah nongol ke bumi, beuhhh.. mulai lah suami mendidikku dengan caranya yang terkadang membuatku merasa diacuhkan dan tak diperhatikan, hadooh kamu ko gitu… asli deh bikin keki, mau manyun seharian juga, rasanya akan sia-sia. Padahal rasa-rasanya menjelang pernikahan (setelah khitbah) suami yang mengejar-ngejar saya, dengan sms dan telpon berkali-kali (yang saya rasa ga penting-red), tak akan menyerah sampai berhasil mendapatkan jawaban dari saya. Sekarang ?? sepertinya terkena hukum balas, haha

Sebelum menikah saya memang jauh dari manja, bahkan bisa dikatakan galak dan jutek terhadap lawan jenis  dan lebih mandiri , semuanya dikerjakan sendiri, mau kemana-mana bawa motor sendiri bahkan mengantar anggota keluarga kemana saja, namun sesekali  tetap saja merepotkan ayah tercinta. Entah mengapa setelah menikah, saya seperti euphoria.. mungkin karena sebelumnya tidak pernah pacaran alias tak ada kekasih yang bisa direpotkan, haha.. jadilah seperti itu.

Di momen dua tahun ini, tak ada euphoria yang berlebihan… tak ada perayaan khusus, bahkan melankolis saya pun tak tiba-tiba muncul dan mendominasi seperti biasanya, Alhamdulillah terasa amat biasa… Suami juga bukan orang yang romantis, menurutnya untuk mengekspresikan cinta dengan tindakan itu jauh lebih nyata dari sekedar perkataan gombal .. padahal setelah menikah saya suka sekali digombalin😛

Saya masih belajar, saya yakin suami pun masih belajar… untuk saling memahami dan mengerti, saling mengisi dan memenuhi apa yang menjadi kebutuhan pasangan-bukan sekedar keinginan. Proses ta’aruf ini adalah proses seumur hidup yang akan terus berkelanjutan hingga maut menjemput, dimana masing-masing dari kita baru bisa menyimpulkan… bagaimana cerminan diri kita yang ada dalam diri pasangan kita.

Apakah pada akhirnya ia menjadi insan yang lebih baik, berkembang dan semakin sholih/a… Apakah dengan hadirnya saya di kehidupannya, dia menjadi orang yang lebih bergairah, bersemangat untuk berjuang? Bagi saya, suami adalah cermin.. dimana setiap hari saya berkaca, kebaikan apa yang telah saya lakukan untuk memperindahnya. Bagi saya suami adalah pakaian, tempat saya berlindung dari rasa kekurangan dan mencoba menutupinya dengan amal-amal sholih. Bagi saya suami adalah telaga, yang menghilangkan rasa dahaga akan kasih sayang dan penjagaan. Bagi saya suami adalah mentari, yang memberi kehangatan dan semangat  optimisme untuk terus melakukan perbaikan…Bagi saya suami adalah sang pemimpin, dimana kesejahteraan dan keadilan akan saya peroleh darinya, hingga hanya kenyamanan dan ketenangan yang bersemayam dalam dada ketika saya menjadi makmumnya.

Sayangku, tak ada yang lebih istimewa dan berharga hari ini, selain doa dan ridha darimu… Bahwa aku adalah istrimu yang akan kau jaga, pelihara dan pimpin di JalanNya, bukan sekedar berwujudnya  harap duniawi semata atas sejahtera fana ini… Tak lebih, aku hanya ingin Sakinah, Mawaddah.. Warohmah menjadi milik kita selamanya yang dianugerahkan Arrahman dalam mahligai pernikahan kita, saling berpandangan & bergenggaman tangan dengan penuh cinta hingga berguguran dosa kita karena RidhaNya… Amiin Allahumma Amiin…

-Depok, 1 Maret 2011-

It Feels so Unfair

Aku tahu, rizkiku tak mungkin diambil orang lain
Karenanya hatiku tenang
Aku tahu, amal-amalku tak mungkin dilakukan orang lain
Maka aku sibukkan diriku bekerja dan beramal
Aku tahu Allah selalu melihatku
Karenanya aku malu bila Allah mendapatiku melakukan maksiat
Aku tahu kematian menantiku
Maka kupersiapkan bekal untuk berjumpa Rabbku

[Hasan Basri, 3A1]

Dalam seminggu ini ada 2 kejadian yang kurang meng-enak-an yang  saya alami dikantor… walaupun berusaha untuk tetap kalem menghadapinya, tetapi tetap saja terasa seperti shock teraphy yg harus buru-buru diredam. Sebagai insan biasa, saya rasa wajar jika saya merasa sedikit kecewa, agak kesal namun yang paling dalam.. saya merasa diperlakukan kurang adil oleh pihak manajemen dan pimpinan.

Memang jika dipikir-pikir.. siapa sih saya ini? posisi saya dikantor memang  bukan apa-apa.. latar belakang pendidikan juga baru  Diploma III dan belum kunjung lulus Sarjana memang jauh berada di belakang mereka yang bergelar Msc, Phd dan Professor dan sebagian besar memilki profesi sebagai dosen.

Dua kali pula saya bekerja dikalangan akademisi dikampus yang sama namun di Fakultas yang berbeda. Saya melihat tidak banyak orang-orang pintar dan cerdas di bidang akademisi yang menganut filosofi padi, semakin berisi semakin merunduk. Perasaan terintimidasi, minder, tidak percaya diri ketika menjadi bawahan kerap saya rasakan dari bahasa tubuh, isyarat mata, cara berbicara hingga perlakuan dan tindakan nyata dalam satu bentuk keputusan yang bernama “kebijakan”.

Tapi saya banyak belajar… amat banyak belajar dari keangkuhan ilmu duniawi yg telah dikuasai, dari jabatan tinggi yang prestise, dari pengalaman keliling luar negeri yang belum pernah saya rasakan, dari jaringan  bisnis dan organisasi yang luas hingga ke kalangan pejabat pemerintah atau ilmuwan….

Baiklah.. baiklah…. saya dapat hikmah yang luar biasa dari perlakuan yang kurang menyenangkan dimana saya merasa terpinggirkan, eksistensi dan kontribusi yang tak berpengaruh, walau selama bekerja saya selalu berusaha all out.. melakukan yang terbaik, walaupun saya tidak bergelar  MSc, MEng, M Kom, seorang dosen atau apalah….

Pada akhirnya saya mendapat hikmah untuk selalu bekerja keras dan terus belajar, hingga biarlah Allah dan orang-orang yang beriman saja yang menilainya, saya mendapati semangat yg luar biasa untuk meneruskan studi dan berjanji dalam hati untuk tidak pernah berlaku angkuh pada siapapun hingga mendzolimi perasaan orang lain dengan mengucilkan kompetensi dan eksistensinya, saya semakin semangat untuk berwirausaha membuka lapangan pekerjaan walaupun kecil-kecilan dan berusaha seoptimal mungkin untuk memenuhi hak bawahan untuk sama sejahteranya dengan saya sendiri dan tak akan menyia-nyiakan setiap tetes keringat yang telah mengucur tanpa menunggunya kering. Insya Allah… insya Allah… Bi idznillah definately !

Keyakinan ulama Hasan Basri diatas juga ingin  saya resapi dalam-dalam, hingga pada akhirnya saya seutuhnya hanya berharap pada Allah, hingga tak mudah kecewa terhadap hambaNya yang berlaku tidak adil. Hingga pada akhirnya hati ini lapang karena hanya mengingat kuasaNya dan ketetapanNya….  Allahumma amiin

#semoga setiap ketidak adilan yang terjadi tak pernah mengusik keikhlasan untuk berserah padaNya saja, padaNya saja…

Memiliki anak, memang adalah anugerah  dari Allah yang luar biasa….

Terkadang -luar biasa- berat, namun lebih banyak lagi -luar biasa- menyenangkan #sumringah

Alhamdulillah aku dan Azzam sangat dekat, breastfeeding time adalah momen favorit ku untuk menguatkan bonding antara kami

Aku bisa melakukannya sembari berbincang dengannya, mengusap punggung kecilnya, atau mengelus rambut jabriknya 😀, dan dia biasa hanya menyahut “heu.. heu… heu…. ” dengan bola mata yang berputar dan berbicara.

Azzam memang masih sangat belia, 1 tahun 2 bulan… kosakata yang mampu diucapkannya belum semua utuh. Namun satu hal yang mebuatku terkadang cemburu buta, dia mampu memanggil ayahnya dengan fasih… “Yah… Ayah..” sedangkan memanggilku hanya dengan sepotong kata “nda”.

Meski termasuk anak yang amat menggemaskan dan lucu, dengan berbagai polah tingkahnya yg tak terduga dan cenderung ga bisa diem. Adakalanya sebagai seorang bunda yg amatir-haha, aku kewalahan menghadapi Azzam…. Hiyaa, pokonya mah kalo kata orang betawi -adatnya keras- kalau katanya ya katanya, Melihat rambutnya yang jigrak-jabrik-berdiri banyak ibu-ibu disekitar rumah yang berkomentar “Wah.. jangan deket2 balon tuh rambutnya nanti bisa pecah” ada-ada aja….

Berbicara, berkomunikasi dengan Azzam, memang tantangan tersendiri buatku, terlebih ketika ia cenderung tidak menurut dan membawa caranya sendiri, duile udah dewasa ya  :p. Misalkan saat sesi makan sayur sop, jika ia hanya ingin wortel.. ia akan terus menunjuk wortel dan menolak sayuran yg lain. Terlebih bila melihat Ayahnya makan kerupuk, ga akan menyerah hingga berhasil mencicipi kerupuk tersebut, mulai dari mengekori Ayahnya, menunjuk-nunjuk kaleng kerupuk di dapur sembari setengah berteriak “pu… pu…”, hingga nangis guling-guling di lantai. Intinya ga akan menyerah hingga Ayah dan bunda yang menyerah, hehe….

Kegiatan manjat memanjat bangku dan melempar bantal bangku kelantai, meng- acak2 pakaian yang sudah dilipat rapih, hingga aktivitas menenteng-nenteng sepatu kemana-mana  & menyemirrnya meniru ayahnya ia lakoni…. terkadang memang lucu sekali, tetapi kalau dilakukan berulang-ulang dan membuat berantakan lelah juga ya. Saya jadi berfikir bagaimana ya caranya agar Azzam setidaknya paham apa yang bunda harapkan, haha… maksudnya mengerti apa yang  boleh dan tidak boleh, setidaknya ia mendengar dan berkenan menurut…

Memang saya tidak berharap banyak dari anak sekecil  Azzam untuk cepat-cepat paham, memang mungkin naturenya seperti itu… Tapi saya tidak mau berhenti menyerah untuk bisa saliang mengerti dan memahami dengan Azzam, tentu saja berbicara  yang efektif dari hati ke hati tanpa harus frustasi dan mengerahkan emosi berlebih yang tidak perlu😀

Tips dari Kompas.com ini mungkin cukup  membantu, silahkan di simak….

KOMPAS.com – Berbicara dengan anak bukan perkara mudah. Bahkan bagi orangtua anak sekalipun ada kalanya merasa kesulitan berbicara dengan anak. Bagi Anda yang sering menyaksikan serial Nanny 911 pasti pernah menyaksikan kesulitan orangtua untuk mengajak anaknya berbicara. Bagaimana cara Nanny Deb dan Nanny Stella berbicara dengan anak? Begini tips yang mereka bagi dalam buku Nanny 911:

1. Apabila Anda ingin memastikan anak mengikuti kemauan Anda (atau saat ingin mengajarkan disiplin), turunkan tubuh Anda setinggi anak. Duduk atau berlutut, pilih yang nyaman untuk Anda.

2. Tatap matanya. Ini adalah bagian penting. Jika perlu, dengan lembut palingkan wajahnya agar ia menatap langsung kepada Anda.

3. Jika si anak sangat marah, usap punggung atau perutnya. Ini adalah bentuk usapan pengakuan. Tak perlu menarik atau memeluknya dengan paksa agar berdekatan dengannya, kecuali si anak benar-benar histeris dan perlu ditenangkan. Jika anak histeris, biarkan ia tenang dulu sebelum diajak bicara. Suruh ia mengatur napasnya.

4. Ubah nada suara agar menjadi tegas tetapi lembut. Suara Anda secara alami naik turun ketika sedang bahagia atau sedang bersenang-senang.

5. Beri kata-kata kepada anak untuk membantu mengalirnya percakapan. Bantu anak yang masih sangat kecil dengan suruhan mengikuti kata-kata Anda dan dorong ia mencoba. Untuk anak-anak yang sudah besar, Anda bisa membuka percakapan dengan ide, seperti, “Kamu sepertinya sedang kesal.”

6. Ulangi kembali apa yang dikatakan anak. Ini menunjukkan bahwa Anda benar-benar mendengarkan. Ini juga memberi Anda waktu untuk mengatur ulang pikiran Anda.

7. Jangan menyela si anak saat sedang bercerita. Biarkan ia mengutarakan apa yang ada di benaknya. Katakan padanya bahwa Anda mengerti. Ketika giliran Anda tiba, mereka akan berhenti berbicara dan mendengarkan Anda. Kalau mereka menyela Anda, katakan, “Mama mengerti, tetapi biarkan Mama selesai bicara dulu, setelah itu kami bisa bicara.”

8. Biarpun hati Anda penuh gejolak, upayakan selalu tetap tenang